Aplikasi Saklar “Sentuh” Menggunakan Sensor Photoreflector

Dalam film-film sain fiksi, semisal star trek, sudah tidak asing lagi kita melihat
alat atau mesin yang diaktifkan secara otomatis dengan hanya mendekatkan tangan atau
menggerakkan tangan diatas tambol, tanpa perlu menekan ataupun menyentuh tombol
tersebut.
Dahulu hal tersebut merupakan hal yang luar biasa jika diterapkan pada
kenyataan. Sekarang hal tersebut sudah umum dijumpai pada produk-produk elektronika
keluaran terbaru. Tetapi walaupun begitu tidak ada salahnya untuk mencoba membuat
sendiri peralatan elektronika yang dapat diaktifkan dengan hanya dengan menggerakkan
jari didepan sebuah sensor yang hanya berukuran tidak sampai sekuku jari. Dalam
aplikasi kali ini akan dicontohkan aplikasi yang sangat sederhana yaitu mengaktifkan dan
menonaktifkan lampu suatu ruangan dengan sebuah saklar “sentuh”, ditambah dengan
suara ucapan kalimat selamat datang menggunakan modul DST-52, sehingga jika
seseorang memasuki ruangan dan akan mengaktifkan lampu, maka hanya cukup
mendekatkan jari kesensor maka lampu akan menyala dan suara ucapan selamat datang
akan terdengan.
Saklar “sentuh” yang dipakai menggunakan sebuah sensor photoreflector.
Kegunaan umum dari sensor photoreflector ini sebenarnya adalah sebagai pendeteksi
kertas atau warna putih misal garis putih, tetapi tidak menutup kemungkinan digunakan
untuk keperluan yang lain, misalnya sebagai saklar “sentuh” pada aplikasi ini. Sensor
photoreflector yang digunakan pada prinsipnya menggunakan pantulan cahaya infra
merah untuk mendeteksi dengan jarak tertentu adanya obyek berwana hitam atau putih.
Sensor photoreflektor ini sangat sensitif sehingga juga dapat mendeteksi adanya
obyek dengan warna lain selain hitam, semisal jari tangan. Karena sensor photoreflector
ini juga dapat mendeteksi adanya jari, maka sensor tersebut juga dapat digunakan
sebagai sensor saklar “sentuh”. Selain itu dimensi fisik dari sensor sangatlah kecil yaitu
dengan panjang sekitar 4mm, sehingga relatif gampang untuk “disembunyikan”. Didalam
sensor photoreflector tersebut sudah terdapat build in photodiode, amplifier, schmitt
trigger dan transistor output.
Output dari sensor photoreflector sudah berbentuk digital yaitu hanya berlogika
high atau low saja, sehingga dapat langsung diaplikasikan pada modul DST-52. Jika
mendeteksi obyek dengan warna selain hitam output sensor akan menghasilkan logika
high, sebaliknya jika tidak mendeteksi obyek apa-apa maka output sensor akan berlogika
low. Rangkaian internal dari sensor photoreflector adalah seperti pada gambar 1,
sedangkan dimensi fisik dari sensor adalah seperti pada gambar 2.
Keluaran dari sensor photoreflector ini digunakan sebagai sinyal triger bagi modul
DST-52 untuk mengaktifkan atau menonaktifkan lampu dan mengontrol IC synthesizer
agar membangkitkan bunyi yang menyerupai suara ucapan selamat datang. Rangkaian
interface sensor photoreflector dengan modul DST-52 adalah seperti pada gambar 3. Jika
sensor photoreflector mendeteksi obyek, dalam hal ini adalah jari atau tangan, maka
output sensor akan menghasilkan logika high, yang kemudian diumpankan ke port INT1
modul DST-52, tetapi sebelum itu dibalik dahulu menggunakan sebuah inverter, sehingga
keluaran dari sensor menjadi aktif low. Sinyal triger dari sensor ini digunakan modul
DST-52 untuk mengaktifkan relay untuk menyalakan lampu dan mengaktifkan IC
synthesizer untuk menghasilkan suara.
Untuk membangkitkan suara ucapan selamat datang dapat menggunakan sebuh IC
synthesizer suara. IC synthesizer tersebut dikontrol menggunakan modul DST-52 agar
menghasilkan bunyi menyerupai suara orang yang berbicara dalam kata-kata bahasa
inggris, dalam contoh aplikasi ini adalah kata-kata ucapan “Welcome”. Kata-kata yang
diucapkan tergantung dari data-data yang dikirimkan oleh modul DST-52. Dengan
mengatur data-data yang akan dikirimkan ke IC syntesizer tersebut maka suara yang
menyerupai ucapan kata-kata tersebut dapat diatur. Rangkaian interface IC syntesizer
dengan modul DST-52 adalah seperti pada gambar 4. Sedangkan contoh cara
pengontrolan IC syntesizer ini telah dibahas pada beberapa artikel sebelumnya.
Mengaktifkan dan menonaktifkan lampu dapat menggunakan sebuah relay
sebagai saklar. Agar modul DST-52 dapat mengaktifkan relay maka perlu sebuah
rangkaian driver. Rangkaian driver yang dapat digunakan misalnya adalah dengan
menggunakan sebuah transistor. Seperti pada gambar 5, dimana transistor berfungsi
sebagai saklar untuk relay. Jika basis transistor diberi logika high melalui port P1.0
modul DST-52, maka transistor akan aktif dan mengaktifkan relay sehingga lampu akan
menyala, dan sebaliknya jika basis transistor diberi logika low maka transistor akan nonaktif
dan menonaktifkan relay, maka lampu akan padam. AsoB 020705, Delta Electronic
NB: klik gambar untuk memperbesarnya..


  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: